heyho guys :D i'll post my another short story. okedeh, kalau yang ini agak22 kacau. ndak ngerti jalur ceritanye gimane -,- nikmati jaklah ye :'D
You've changed me, 3773 QR
Motorku, kuparkirkan di lapangan parkir samping mushalla ini. Entah kenapa aku sangat menyukai tempat parkir ini. Yah, walaupun motorku tidak terlindungi oleh panasnya sinar matahari, namun mungkin karena bersebalahan dengan notabene adalah tempat ibadah nan suci, dan mungkin juga karena tempat parkirnya lebih dekat dengan kelasku. Mungkin saja itu alasanku menyukai tempat parkir ini.
Pagi ini aku dengan biasa kembali ingin memarkirkan motorku di lapangan parkir samping mushalla itu. Masih cukup sepi, batinku. Tidak banyak murid-murid SMA Negeri 1 atau yang lebih sering dikenal dengan sebutan Smansa yang sudah datang. Aku memasuki lapangan parkir, fokus pandanganku yang memang terfokuskan ke jalanan menangkap ada sebuah bongkahan batu yang lumayan besar. Aku menggerakkan stang motorku untuk menghindari bongkahan batu itu. Namun sial! Ada seorang gadis yang sedang berjalan menuju bongkahan batu tersebut. Dengan skill mengendarai motorku yang diatas rata-rata dengan cekatan aku menggerem motorku. Rem motorku yang cukup cakram menyebabkan bunyi yang cukup keras akibat bergeseknya ban motorku dan aspal jalanan.
“Woy!! Jalan liat-liat lah!” teriakku.
“Eh, maaf-maaf.” Dia membalikkan tubuhnya, sehingga aku dapat melihat wajahnya.
Paras yang cukup manis, batinku. “Yaudahlah. Makanya lain kali hati-hati.” Nasihatku.
Ia hanya mengangguk, kemudian melanjutkan jalannya kembali. Pandangan mataku mengikuti langkahnya. Aku penasaran dia itu anak kelas mana sih. Maka dari itu aku segera memarkirkan motorku dan mengikuti gadis itu dari belakang, untungnya saja gadis itu tidak menyadari bahwa aku membuntutinya. Wah, ternyata gadis itu adalah teman seangkatanku. Loh kenapa aku nggak pernah sadar kalau gadis itu ada ya? Tanyaku pada diri sendir. Hah, biarlah. Aku berjalana acuh tak acuh, aku memasukkan tanganku ke dalam saku celana sekolahku. Akhirnya aku pun memasuki kelas dan mengikut kegiatang belajar dan mengajar seperti biasa.
-----
Bel tanda waktu sudah mengharuskan semua murid Smansa untuk pulang pun berdering. Aku segera keluar dari kelas. Cukuplah dua jam pelajaran aku mendengarkan pidato Pak Sholihin tentang apa ya? Oh iya, tentang daerah yang menampung urin. Beliau memberikan nasihat bahwa kita tidak boleh tertawa terlalu keras, lebar, dan ngakak. Kalau kita tertawa nanti, katup yang menampung urin aku terbuka dan urin sebanyak 750 cc akan terbuang. Hah. Sungguh mengesalkan bukan? Baru membahas hal yang kurang begitu jelas saja membuatku pusing, apalagi kalau entar mentok-mentok belajar tentang biologi. Aku segera keluar kelas, masih dengan gayaku yang sering dibilang cuek, aku menuju lapangan parkir samping mushalla tempat aku menyimpan motor. Dan waw! Betapa terkejutnya aku, gadis itu terlihat lagi. Gadis yang hampir aku tabrak tadi pagi. 3773 QR itu plat motornya. Entah kenapa aku begitu tertarik dengan gadis ini. Love at the first sight? Entahlah, aku pun tak tahu. Rambutnya yang pendek, hmm tidak terlalu pendek sih, di ikat ekor kuda. Memakai kacamata, dan senyumnya itu, ah begitu manis. Statement ku yang terakhir terbukti, karena saat aku mengamati wajahnya, ia sedang tertawa begitu lepas. Ia sangat mempesonaku. Aku berjalan ke arah motorku. Ya, mungkin bagi orang lain aku masih terlihat cuek, namun semua orang tak tahu, tak menyadari bahwa raut wajahku berubah. Senyuman terukir di wajahku. Hanya aku saja yang menyadarinya perubahan itu. Hanya aku saja.
Aku mengendarai motorku. Namun pikiranku masih terngiang-ngiang wajah gadis itu. Senyumnya, matanya, rambutnya, hingga tawanya masih terekam jelas di dalam memori otakku. Siapa namanya ya? Pikirku dalam hati. Aku harus tahu. Iya. Aku harus tahu.
-----
Pagi kembali datang, matahari yang sempat terbenam kembali mucul dan memancarkan cahayanya. Aku mengerjapkan mataku. Sinar matahari masuk melalui jendela kamarku yang begitu besar. Jendela ini sengaja di design begitu besar, sehingga jumlah cahaya matahari yang masuk banyak, dan kamarku pun pada siang hari begitu terang.
Aku segera berangkat ke sekolah. Pagi ini begitu dingin, sweater yang aku kenakan tidak bisa melindungi kulitku yang ditusuk oleh dinginnya udara pagi ini. Kembaliku parkirkan motor ku ke tempat parker samping mushalla. Hey, gadis yang waktu itu hampirku tabrak ada juga. 3773 QR, aku tersenyum, namun tipis. Aku dengan sengaja memarkirkan motorku tepat di samping motornya, dibawah pohon kelapa sawit. Aku membuka helmet ku. Aku sedikit mencuri-curi pandang, aku melihatnya melalui sudut mataku. Dia sedang mengikat rambutnya. Hey, aku tak boleh memandangnya lama-lama. Aku pun segera berjalan meninggalkannya. Namun ya itu, selama perjalan menuju kelas, aku tak bisa berhenti tersenyum.
-----
Hari demi hari telah berlalu, akhirnya aku mengenal siapa gadis itu. Namanya Adel. Perkenalanku terjadi saat aku mengembalikan barang miliknya. Tempat parkir samping mushalla itu menjadi saksi bisu perkenalanku dengannya. Siang itu, saat aku ingin mengembalikan barang miliknya yang aku temukan. Aku terus menunggu, duduk termenung di atas motorku, sambil mengamati tukang-tukang yang sedang menyemen jalan tepat di depan lapangan parkir samping mushalla ini. Lama aku menunggunya, sampai pada akhirnya, saat aku ingin pergi, ia datang. Wajahnya terlihat kusut sambil mengobrak-abrik isi tasnya.
“Bukunya kemana sih?” aku mendengar ia berbicara sendiri.
“Hey!” sapaku.
Adel yang sedari tadi focus dengan apa yang ia cari kemudian menatapku dengan tatapan seperti melihat orang yang tidak dikenalnya.
“Kau nyari ini?” tanyaku sambil mengangkat buku miliknya.
Ketika ia melihat buku yang aku pegang, ia langsung senang, aku dapat melihat dari raut wajahnya.
“Eh iya, tadi pagi bukunya jatuh di sini. Jadi aku ambil jak.” Jelasku.
“Oh, makasih ya…..” kalimat Adel terhenti, “Eh siapa namanya ya?”
Aku tersenyum, “Amin.” Jawabku.
“Oh, makasih ya Amin, aku pulang dulu. Sekali lagi makasih.”
-----
Pagi itu, aku kembali berjalan menuju kelas ku. Tapi setelah aku meninggalkan lapangan parkir samping mushalla, langkahku terhenti. Seseorang memanggilku, maka dari itu aku memutar badanku.
“Hey.” Sapa Adel saat ia berada di dekatku.
“Hai juga. Ada apa tadi teriak-teriak manggil aku?”
“Ndak. Manggil jak, ehehe.” Adel tertawa kecil.
Wah, tawanya itu. Haha rona merah muncul di kedua pipiku. Aku segera memalingkan wajahku dari Adel. Aku harap ia tak pernah tahu bahwa wajahku memerah.
Aku pun berjalan menuju kelas bersamanya. Tepat berada di sampingnya. Dalam hati aku berdoa kepada Tuhan, bahwa aku ingin jarak dari lapangan parkir samping mushalla hingga kelasku berjarak 15 km. agar aku bisa terus bersamanya.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Aku dan Adel pun semakin dekat. Banyak orang yang mengira bahwa aku dan Adel mempunyai hubungan tertentu. Haha aku tak ingin. Aku entah kenapa tak ingin menjadi seseorang berstatus menjadi kekasihnya. Aku hanya ingin menjadi seseorang yang special di hatinya, namun bukan kekasihnya. Aku merasa hubunganku sudah nyaman dengan Adel hanya menjadi teman. Dan banyak orang berkata bahwa sikapku berubah saat aku mengenal Adel. Aku yang semula bersikap cuek., dan bisa dibilang dingin menjadi ramah, dan aware dengan orang sekitarnya.
Tentu saja aku masih memarkirkan motorku tepat di samping motor Adel. Yah, walaupun aku sudah mengenalnya, namun aku tak akan mengganti posisi parkirku. Tepat, di samping motor berplat 3773 QR. Aku tak akan pernah melupakan tempat parkir samping mushalla ini. Karena tempat parkir inilah, aku mengetahui keberadaanya, karena tempat parkir inilah aku mengetahui dirinya, karena tempat parkir inilah aku mengenalnya. Jika tak ada tempat parkir ini, mungkin saja aku tak akan bertemu dengan Adel. Tempat parkir samping mushalla itu, bagaikan buku cerita. Walaupun tampak sederhana, namun ia menyimpan sejuta cerita yang mungkin tak pernah diketahui banyak orang. Salah satunya cerita tentang diriku.
jelek? emang -,- maap yesincerely,
-amin-


Post a Comment