hello :D
night everyone. well, it's raining here, i'm so freezing. btw, i don't have something to being told to you guys, so can i post my short story here? hehehe. well, my indonesian teacher ask me to make a short sotry. so i make it. and you can read it guys :D
I (still) Love You So Much
“Kita putus.”
“Putus?”
“Iya, kita putus. Ma...”
“Nggak apa-apa. Aku senang kok.”
Tiiit tiiit….
-----
Bi’ah menatap ponselnya sejenak. Bingung kenapa telfon dimatikan begitu saja oleh Lutfhi. Belum sempat Bi’ah mengucapkan maaf langsung saja perkataannya dipotong oleh Lutfhi. Iya memang, hubungannya dengan Lutfhi harus kandas ditengah jalan. Entah apa yang Bi’ah rasakan saat ini. Sedih? Bahagia? Bi’ah sendiri tidak tahu apa yang ia rasakan.
“Aku kenapa sih? Kok malah galau gini? Seharusnya senang loh.” Ucap Bi’ah pada dirinya sendiri.
Seharusnya, iya memang seharusnya ia merasa senang. Akan tetapi, sedikit hatinya tidak rela dan merasa sedih dengan apa yang tadi ia ucapkan kepada orang yang statusnya sekarang sudah menjadi mantan kekasihnya itu. Bi’ah menggelengkan kepalanya, ia harus membuang jauh-jauh perasaan apa tadi itu? Sedih? Iya, perasaan itu, harus ia buang. Toh kenapa ia harus sedih? Selama ini apa sih yang telah Lutfhi berikan kepadanya? Kebahagian? Hah, hampir selama 2 bulan jadian, kebahagiaan yang didapat Bi’ah dapat dihitung dengan jari. Jadi buat apa dia harus bersedih? Senang dong. Bi’ah tersenyum, kemudian mulai memijit tombol-tombol di ponselnya, dan mengirim pesan singkat ke teman-temannya.
-----
“Putus? Lagi?”
Begitulah reaksi teman-teman Bi’ah saat tahu bahwa lagi-lagi ia putus dengan Lutfhi. Memang, selama 2 bulan lebih, Bi’ah selalu putus-nyambung dengan Lutfhi.
“Hehe iya. Tapi ini yang terakhir kok.” Jawab Bi’ah.
“Yang terakhir? Yakin?” Tanya Kiki salah satu teman Bi’ah.
“Hem.. Yakinlah.”
“Eh tapi, kalau boleh jujur nih ya. Kok aku agak nggak rela ya kalau kalian putus.” Kata Amin.
“Iya, aku juga ngerasa gitu.” Devi pun juga berkata.
Bi’ah yang sedari tadi meminum teh es pesanannya, tiba-tiba berhenti melakukan aktifitasnya, “Kok?” Tanya Bi’ah.
“I don’t know. I feel like you both are the sweetest couple. Eh tapi engga manis-manis amat sih hubungan kalian. Tapi ya gitu deh, aku rasa si Lutfhi udah mulai berubah. Lebih perhatian ke kau.”
“Lebih perhatian Dev? Darimana coba kau bisa bilang kayak gitu?” Bi’ah tampak tak sependapat dengan apa yang diasumsikan oleh Devi.
“Ya dari sikap dia akhir-akhir ini ke kau lah Bi’. Hem yaudah deh, terserah kau aja.”
-----
Malam pun telah tiba. Malam yang begitu dingin, kota ini baru saja ditimpa hujan, hal itu menyebabkan semua orang hilir mudik ke kamar mandi, begitu juga dengan Bi’ah. Setelah Bi’ah keluar dari kamar mandi, ponselnya bordering, menandakan ada sebuah pesan singkat yang masuk. Betapa terkejutnya Bi’ah saat mengetahui siapa pengirim pesan itu. Lutfhi. Tak dapat dipungkiri bahwa Bi’ah sangat senang dengan adanya sms dari Lutfhi itu, senyum pun merekah dari bibir Bi’ah dan dengan cekatan ia membalas sms dari Lutfhi. Bi’ah tak dapat menyembunyikan senyumnya saat ber-sms-an dengan Lutfhi. Lesung pipit menghiasi kedua pipi Bi’ah saat ia tersenyum. Ia amat teramat sangat senang saat ber-sms-an dengan Lutfhi. Jujur, ia kangen. Tapi apa daya? Ia sudah bukan siapa-siapa Lutfhi lagi.
Bi’ah melirik ke jam waker yang tepat berada di atas meja di sebelah kasur tidurnya. Sudah menunjukkan pukul 11.24 malam. Hampir tengah malam. Sebaiknya Bi’ah mengakhiri acaranya ber-sms-an dengan Lutfhi, yah karena Bi’ah besok harus sekolah, dan di sekolah juga ketemu Lutfhi kok. Bi’ah pun meletakkan ponselnya di atas meja, menarik selimut yang tebal untuk menghangatkan tubuhnya dari udara dingin ini. Dan masih dengan senyuman efek dari ber-sms-an dengan Lutfhi, Bi’ah pun tertidur dalam bahagia. Berharap ia bisa bermimpi bahagia. Mungkin dalam mimpinya ia bisa kembali bersama Lutfhi.
-----
“Kau rela putus dengan Bi’ah?” Tanya Amin to the point kepada Lutfhi saat berada di kantin.
Lutfhi yang sedang menikmati bakwan goreng tiba-tiba tersedak karena diberi pertanyaan seperti itu. Ia pun segera mengambil air mineral yang dibelinya tadi dan segera meminumnya. Kemudian ia bertanya, “Memangnya kenapa?”
“Nggak, cuman nanya doang. Rela?” Tanya Amin sekali lagi sambil mengaduk-aduk gelas kosong yang berada di depannya.
Lutfhi menatap lurus ke depan, “Yah mau digimanakan lagi. Dianya yang mau putus kok.”
Lutfhi terus menatap ke depan. Terus memikirkan jawabannya tadi, dari jawabannya dia bisa mengambil kalau dia tidak rela. Amin pun juga merasakan demikian, Luthfi tidak rela diputuskan oleh Bi’ah. Walaupun Lutfhi menatap ke depan, Amin tahu bahwa pandangan Lutfhi saat itu kosong. Hanya tubuhnya saja yang berada di kantin ini, tapi fikiran dan jiwanya pergi entah kemana.
“Terus kenapa kau jawab senang waktu diputuskan?”
“Kok kau tau aku jawab senang?” Tanya Lutfhi heran, dan arah pandangannya berubah ke arah Amin.
Amin tersenyum tipis, kemudian menjawab, “Bi’ah cerita sama aku. Jadi kenapa kau jawab senang?”
Lutfhi mengangkat bahu, “Entahlah. Mungkin aku senang karena bisa bebas. Layaknya burung yang lepas dari sangkarnya.”
“Bebas? Maksudnya?”
“Iya bebas. Dia selalu nyuruh aku nurutin yang dia mau. Anehnya, niat aku buat lakuin apa yang dia mau itu besar, tapi entah kenapa aku nggak bisa ngelakuin itu.” Jawab Lutfhi sambil menatap butiran embun di gelas yang dipegangnya.
“Dan itu artinya, kau nggak bisa bikin dia bahagia. Iya kan?” Kata Amin sambil tersenyum, ia mengerti. Sesaat setelah Amin berkata, bel pun berdering. Menyuruh semua murid untuk masuk ke kelas masing-masing.
Amin melirik ke arah jam tangannya, memang sudah saatnya masuk. “Last question deh. Andaikan Bi’ah masih suka sama kau, kau gimana?”
Beberapa detik berlalu tak ada suara dan jawaban yang keluar dari mulut Luthfi. Hanya sebuah gesture kecil yang dilakukan oleh Luthfi, ia hanya mengangkat bahunya. Amin tertawa ringan lalu berkata, “Nggak usah kau jawab, aku pun tau jawabannya kok. Yuk, aku duluan masuk kelas.”
-----
“Ciaaa Bi’ah. Masih sms-an sama Lutfhi nih.” Ejek Febri saat ia meminjam ponsel milik Bi’ah.
Dengan refleks Bi’ah segera mengambil ponsel miliknya dari tangan Febri. “Apaan sih? Emang kenapa coba kalau aku masih sms-an dengan Luthfi?”
“Yah nggak kenapa-napa sih, tapi ya kayaknya ada yang masih suka gitu nih sama Lutfhi.” Kata Suci.
Mendengar kata-kata Suci tadi sontak saja, rona merah muncul di kedua pipi Bi’ah. “Su..suka? Siapa yang masih suka dengan Lutfhi?”
“Ya kau lah. Liat tuh merah gitu pipi kau. Hahaha.” Tawa Ardhi.
“Aku? Masih suka Luthfi? Nggak lah. Aku nggak suka lagi kok sama Lutfhi.” Bi’ah menyakinkan teman-temannya dan juga dirinya. Iya itu memang keinginannya itu tidak lagi suka terhadap Luthfi. Tapi itu keinginan fikirannya, bagaimana dengan keinginan hatinya? Apakah sejalan dengan fikirannya? Bi’ah sendiri tidak yakin. Pasalnya saat Bi’ah menyatakan bahwa dirinya tidak lagi menyukai Lutfhi, hatinya terasa perih, seakan tidak setuju dan tidak mau setuju dengan apa yang diucapkan.
“Jangan bohongin perasaan diri sendiri deh Bi’. Bilangnya sama kita kalo nggak suka lagi, tapi nyatanya masih suka. Kalo masih suka sih bilang suka aja. Jangan pura-pura nggak suka lagi. Bohongin perasaan diri sendiri itu nggak enak loh. Pasti sakit. Seakan mendapat peran, yang nggak akan mungkin pernah bisa kita mainkan. Susah dan sakit.” Kata Devi.
Bi’ah terdiam. Kata-kata Devi barusan begitu telak. Tak usah berpura-pura. Apakah Bi’ah hanya berpura-pura bahwa ia tak lagi menyukai Lutfhi?
“Gimana kita bisa tahu bahwa kita bohongin perasaan kita sendiri apa nggak?”
Devi tersenyum lalu menunjuk ke arah dadanya, “Hati. Hatilah yang lebih tahu. Akal kau bisa saja menipumu. Tapi hati kau tidak akan pernah dan tidak akan bisa menipumu.”
Bi’ah meresapi perkataan Devi tadi. Mungkin ada benarnya juga. Tidak usah membohongi perasaan diri sendiri.
-----
Andaikan Bi’ah masih suka sama kau, kau gimana?
Entah kenapa pernyataan Amin masih saja menghantui fikiran Lutfhi. Untung saja, ia diselamatkan oleh bunyi bel penolong itu, jadi ia tidak perlu menjawab pertanyaan Amin tersebut. Kalau saja tidak ada bunyi bel itu, entahlah, Lutfhi sendiri bingung ia harus menjawab apa.
Lutfhi bingung dengan perasaannya sendiri. Suka? Tidak? Apa sih yang ia rasakan? Dan bagaimana bila Bi’ah masih suka dengan dirinya? Apakah ia juga merasakan hal yang sama? Ia masih suka dengan Bi’ah?
Lutfhi memandang ponsel miliknya yang terletak di atas meja belajar. Ia rindu, ia merindukan Bi’ah. Ia ingin menelfon Bi’ah. Ia ingin mendengar suara Bi’ah. Tapi, apakah ia berani? Apakah ia sanggup berbicara dengan Bi’ah? Setelah ia diputuskan oleh Bi’ah, rasanya tidak. Lutfhi menghembuskan nafasnya, ia tak sanggup. Sedikit berpikir, kenapa ia sampai diputuskan. Apakah ini karena ia kurang perhatian terhadap Bi’ah? Mungkin saja. Tapi, sungguh akhir-akhir ini sebelum ia diputuskan oleh Bi’ah ia sangat perhatian dengan Bi’ah. Akan tetapi mungkin saja perhatian yang ia sampaikan kepada Bi’ah tidak dapat diterima oleh Bi’ah. Lutfhi terdiam, pikirannya melayang ke saat ia bersama Bi’ah. Sungguh indah. Lutfhi pun tersenyum, ia ingat saat ia menggoda Bi’ah, ia teringat saat ia meminta maaf akan segala kesalahan yang ia perbuat. Ia ingat, dan tak mungkin bisa ia lupakan dengan mudah. Ia bergerak menuju meja belajarnya, dan meraih ponsel miliknya. Kemudian memencet nomor yang sudah dihapalnya diluar kepala.
Satu detik, tak ada jawaban. Lutfhi masih tengah sibuk mendengar nada sambung dari ponselnya itu. Dua detik, tak ada jawaban juga. Hingga detik kelima belas, harapan Lutfhi pupus, ia ingin mematikan telfon itu, namun sebelum ia memencet tombol merah di ponselnya, terdengar suara Bi’ah.
“Hallo?”
-----
Bi’ah berlari dari lantai bawah menuju kamarnya yang terletak di lantai dua. Pasalnya saat ia sedang menikmati makan malam, ponselnya berdering menandakan ada sebuah panggilan yang masuk.
Bi’ah mengambil ponselnya dan terkejut melihat nama sang penelfon. Lutfhi? Tanyanya heran. Bi’ah sedikit ragu saat ingin menjawab telfon dari Lutfhi itu, namun akhirnya ia pun mejawab panggilan tersebut.
“Hallo?” Katanya.
“Bi’ah?” Tanya Lutfhi.
“Iya? Kenapa Fhi?”
“Nggak. Lagi apa?”
Bi’ah diam. Sangat senang. Ia sangat senang karena Lutfhi bertanya demikian. “Habis makan. Emang kenapa? Oh iya tumben nelfon?”
Lutfhi tidak menjawabnya secara langsung, ia diam beberapa saat. Namun akhirnya dijawab juga oleh Lutfhi. “Ya, kepengen aja sih nelfon kau. Emang ngga boleh ya? Oh mungkin udah ada yang marah kali ya kalau aku telfon kau?”
Loh loh? Kenapa Lutfhi bisa berasumsi demikian? Dengan cepat Bi’ah menjawab, “Bukan! Bukan! Ngga ada yang marah lah. Aku heran, tumben aja kau nelfon aku.”
“Benar nih nggak ada yang marah?”
“Iya, benar nggak ada yang marah lah.”
“Andaikan belom ada yang marah, kau mau balikkan lagi sama aku?”
-----
Keesokkan paginya, Bi’ah bangun dengan wajah ceria. Mungkin karena diajak balikkan oleh Lutfhi, makanya ia begitu ceria hari ini. Akan tetapi ia belum menjawab. Ia meminta waktu kepada Lutfhi untuk mempikirkan jawabannya. Bi’ah berjanji hari Jumat ia akan menjawabnya.
Pagi ini, di sekolah diawali oleh pelajaran kimia. Semua murid kelas X-F disuruh untuk melakukan praktikum oleh Bu Lusi, sang guru kimia. Mereka semua melakukan percobaan tentang larutan elektrolit dan non-elektrolit.
“Eh, kalian tau? Lutfhi ngajak aku balikkan.” Cerita Bi’ah kepada teman-temannya.
“Hah? Ciee pasti mau tuh kan?” Ejek Ardhi.
“Kapan? Kapan dia ngajak kau balikkan?” Tanya teman-temannya yang lain.
“Sssst! Jangan keras-keras ngomongnya.” Bi’ah menempelkan jari telunjuk di bibirnya menyuruh teman-temanya agar tidak bebicara terlalu keras. “Kemarin malam, dia nelfon aku. Terus langsung ngajak balikkan gitu aja.”
Teman-teman Bi’ah mengangguk paham. “Jadi udah kau jawab?” Tanya Kiki.
Bi’ah menggeleng, “Belom. Aku bilang ke dia kalau bakalan aku jawab hari Jumat dan itu besok. Aku bingung mau jawab apa.”
Devi berjalan ke arah Bi’ah kemudian merangkulnya, “kalau kau emang masih suka sama Lutfhi, terima aja. Nggak masalah kok. Kan udah aku bilang dari kemarin-kemarin, kalau perasaan itu nggak boleh dibohongi.”
Bi’ah mengangguk. Tiba-tiba Lutfhi datang. “Eh aku pinjam larutan NaCl-nya dong. Larutannya habis di kelompok aku.”
“Ciaa, yang ngajak Bi’ah balikkan. Haha. Bilang aja sih ke sini mau ketemu Bi’ah.” Ejek Kiki.
Lutfhi tidak bereaksi sedikitpun dengan ejekkan Kiki, ia hanya mengambil larutan yang ia butuhkan, kemudian melirik ke arah Bi’ah dan sedikit tersenyum. “Kalau memang iya aku ke sini cuman mau ngeliat Bi’ah kenapa?” Katanya, selanjutnya ia kembali ke kelompoknya.
Kata-kata Lutfhi barusan, walaupun hanya sedikit saja, mampu membangunkan hasrat teman-temannya untuk mengejek Bi’ah kembali. Setelah melihat Lutfhi kembali ke kelompoknya, kalimat-kalimat ejekkan dilontarkan teman-teman Bi’ah kepadanya. Bi’ah malu, tapi ia sangat senang dengan perkataan Lutfhi tadi. Menumbuhkan kembali seberkas harapan yang dahulu telah sirna di dalam hatinya.
-----
Jumat. Ya, hari ini hari Jumat. Berarti hari ini ia harus memberikan jawabannya.
Malam ini, hati Bi’ah begitu gundah. Frekuensi detak jantung Bi’ah bertambah. Dan ia pun langung terloncat yang disebabkan oleh getar ponsel miliknya yang sedari tadi di pegang erat oleh Bi’ah.
Pesan singkat dari Lutfhi. Bi’ah segera membaca pesan itu. Ia pun dengan tergesa-gesa membuka pesan dari Lutfhi.
Pengirim : Lutfhi
Galau itu, menunggu jawaban dari dia.
Sebuah pesan singkat yang benar-benar singkat dari Lutfhi. Bi’ah segera membalasnya, namun sebelum balasan dari pesan singkat itu terbalas, sebuah panggilan masuk dari Lutfhi. Bi’ah pun menjawab.
“Jawabannya?” Begitu Bi’ah menjawab telfon, tidak ada kata sapaan seperti halo, hai atau apapun dari Lutfhi. Ia langsung straight to the point.
“Jawaban apa?”
“Jawaban dari pertanyaan aku kemarin-kemarin.”
“Memangnya pertanyaan apa?” Bi’ah sengaja mengulur-ulur waktu.
“Pertanyaan yang aku tanyakan Hari Rabu malam.” Nampaknya Lutfhi sudah tidak sabar.
“Coba deh kau ulangin lagi pertanyaannya.” Bi’ah hampir tertawa.
“Ya ampun. Oke. Aku ulangi.” Lutfhi menarik nafas. “Bi’ah, kau mau balikkan sama aku? Jadi pacar aku lagi?”
Bi’ah tersenyum, “Ooh, jawaban dari pertanyaan itu. Iya iya, aku ingat.”
“Baguslah, jadi jawabannya?”
“Memangnya harus aku jawab sekarang?”
“Arrrgh!” Lutfhi tampak geram sekali, “Iya! Harus sekarang! Buruan!”
“Hahaha.” Bi’ah tak dapat menahan tawanya. “Iya, iya aku jawab sekarang. Aku mau kok balikkan lagi sama kau.”
“Benar?”
“Iya benar.”
“Te…….”
Tiii tiiit. Sambungan telfon terputus. Nampaknya pulsa Lutfhi habis.
Namun beberapa saat kemudian sebuah pesan singkat masuk dan pengirimnya adalah Lutfhi.
Pengirim : Lutfhi
Terima kasih atas jawabannya. Saya senang. Pulsa aku habis, maaf. Selamat malam, Have a nice dream. ILYSM Bi’ah.
Bi’ah pun mengetik pesan balasan.
Sama-sama. Aku juga senang. Malam. ILYSM Lutfhi.
Malam ini, semuanya kembali seperti dahulu. Hubungan yang dulu sempat kandas, akhirnya bersatu kembali. Bi’ah tersenyum. Memang benar, perasaan itu tidak bisa dibohongi. Mungkin, apabila kita membohongi perasaan kita, akhirnya tidak akan bahagia seperti ini. Karena dari itu, percayalah kata-kata hatimu yang terdalam. Believe in your heart.
SELESAI